|
Menulis untuk dakwah? Duh! Rasanya ini terlalu berat buat aku yang penulis pemula. Boro-boro dakwahin orang, diri sendiri saja banyak gak benernya he he. Tapi kalo boleh diganti , aku lebih suka digant dengan "Menulis tuk Ngomporin". Ya kan kerjaan sekarang tukang kompor. Tukang kompor FLP surabaya, agar mau giat menulis dan menulis dan menulis. Tentu gak asal menulis lho? Tapi menulis sesuatu yang bisa mencerahkan umat. Nulis apa saja deh, yang penting bisa bikin dunia cerah. Entah nulis kata-kata pelecut diri, ataupun tulisan yang lebih rumit lagi macam cerpen, novel, artikel, opini dan lain-lain deh. Kenapa rumit? karena butuh modal semngat besar untuk pede, selain itu mesti sabar mengasah dan tentu gak ketinggalan mesti banyak membaca. Ini yang kukira penting buat dipikirkan.
Padahal tak ada satu penulis besarpun di dunia ini yang bisa berhasil secara instan. Mereka semua selalu bergelut dengan proses yang tiada henti. mereka punya sesuatu yang harus diperjuangkan. Mereka punya idealisme yang menjadi penggerak, penggerak yang nyalanya tak pernah padam. Memang kita belum bisa menjadi penulis sekaliber Ibnu Katsir yang mampu menulis berjilid-jilid kitab -kitab tafsirnya. Atau seperti Imam Al Ghazali yang bisa melahirkan karya fenomenal Ihya Ulumiddin.
Tetapi cukuplah kita bisa belajar menyampaikan walau satu ayat. Seperti yang telah diajarkan Rasul kita " Ballighu anni walau ayah". Karena siapa tahu dari yang satu mampu mencerahkan sekian banyak orang. Dari yang satu mampu menggerakkan kita berbuat lebih bnayak dan manfaat.
Bukankah berawal dari kata peristiwa besar bisa terjadi? Berawal dari kata perubahan mengejutkan bisa mengguncang hati? Berawal dari kata pula seseorang yang keras lunak hatinya? Sebaliknya orang yang baik-baik bisa berubah menjadi orang yang rusak karena mendengar, mencerna, atau membaca tulisan yang hati dan pikiran?
Negara Yahudi Raya Israel barangkali tidak akan pernah ada, seandanya seorang Benyamin Se'eb alias Theodore Herzl tidak menulis sebuah buku tipis yang berjudul Der Judenstaat (the Jewish State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land) buku ini menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk mendirikan Negara israel dengan merampas hak-hak saudara kita di Palestina. Apakah kita akan diam saja?
Nah sudah saatnya kita menulis, saatnya kita menyampaikan untuk perubahan. Karena setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradapan. Maka kita harus memperhatikan bagaimana dan kemana ujung pena akan kita gerakkan. Otre deh.. boleh komen-komen, apakah ini bisa dikatakan menulis untuk dakwah atau enggak...
|