Pestanya Bubar: Memakna Lebaran « Jinsei ga Utsukushiii
 



.....barangsiapa yang melalui jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan melewatkannya pada satu jalan dari jalan-jalan ke surga....HR Ahmad

   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31



komunitas muslim blogger



nengok cerita bro and sist:

Abhiray
Achdaf
aridaistiarti
Alif
Arul
arjit
Adiono
Aann
alfa
Aal
rahman
Ay
Assa
Ayunda
Ayyesha
Bidadari mungil
benny
calie
dee! alias cyberdee
Denny
Dina
Dini
elah
edhipur
Faid
gaw
Honey
Hanum
Hany
Hyoutan
IdE
chandra
iman
Ime
Ivandinita
Kangmas Anom
kean
Kenzo
arie
linda
Muhandis
Mpit
Mursyd am
Mr^x
chik
oyo
renny
ryka
Rita
rommy
septina
Sistha
sinai
tyo
Unotlon
ummunida
ummuthoriq
uNisA
Verry
Yentri
Yusi
Berita Islam terkini
Boemi-Islam
Indonesia Muslim Bloger



Tentang Diriku

Namaku Arida Istiarti, arek jawa timur. kerjaan ngajar di smu islam punya Yayasan Pendidikan Ma'arif Sepanjang Sidoarjo East Java. saat ini sedang dapat rejeki belajar ke negeri Momiji tepatnya di Tokyo University of Foreign Studies. Bu guru lagi mimpi di jepun he he. mudahan barakah setiap langkah.

Keinginan hati yang terpendam adalah jadi bidadari bumi sebelum surga. Juga pengin bisa apa saja biar dapat manfaat bagi ummat. hingga kayak rasulullah yang insyaAllah tidak pernah berkata "tidak" bila ada yg minta tolong padanya. Ketinggian enggak keinginanku?? semoga Allah mengabulkan amiin

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Sunday, October 29, 2006
Pestanya Bubar: Memakna Lebaran

Tak terasa lebaran telah tiba. Setelah sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa ramadhan. . Dan apakah yang sudah kita dapat dari itu? Merasa bebas dari "ujian berat" selama sebulan? Atau kita merasa kehilangannya saat harus berpisah dengannya? Semua tergantung bagaimana kita memaknainya. Karena tak semua orang mampu menangkap makna hakekat yang sebenarnya tentang lebaran. Padahal tanpa kemampuan menemukan makna, segala tindakan kita akan menjadi sesuatu yang teknis, ritual, dan administratif. Banyak orang yang shalat, mengaji, dan berpuasa tapi tak memahami maknanya. Semua dilakukan secara otomatis, tanpa pemikiran, apalagi kesadaran. Kebiasaan membuat kita merasa tak nyaman kalau belum melakukannya. Kita baru merasa nyaman setelah shalat karena kewajiban kita sudah tertunaikan. Membuat kita tak jauh berbeda dengan robot. Lebaran di negeri kita bisa diibaratkan sebagai sebuah 'pesta'. Sesuai dengan arti lebaran yang dalam bahasa Jawa berarti bubaran. Menandakan kewajiban sudah usai atau bubar. Kita merasa bebas lepas dari 'ujian berat' selama sebulan penuh. Karena itu perlu dirayakan dengan "pesta". Kita saling mengunjungi dan 'memohon maaf' kepada setiap orang yang kita jumpai. Dimeriahkan pula dengan baju-baju baru beraneka rupa. Belum acara-acara live dari para artis makin menambah kejelasan "pesta" kita. Pun tradisi mudik lebaran yang lebih sering hanya diartikan sebagai bentuk silaturahim dan kegembiraan. Padahal, mudik memiliki makna yang amat dalam. Mudik sebenarnya mencerminkan kerinduan manusia yang luar biasa pada asal muasalnya, pada tanah kelahirannya. Dan, karena asal muasal kita yang hakiki adalah Tuhan, maka mudik ini sebenarnya hanya lah sebuah bentuk kecil dari kerinduan kita yang luar biasa kepada Tuhan. Dan pada gilirannya nanti, kita pun akan melakukan 'mudik' yang abadi ke hadirat Ilahi. Tetapi tanpa kita sadari, kita juga merayakan 'kemenangan' kita dengan 'kekalahan', antara lain dengan makan dan minum terlalu banyak. Sebagai "balas dendam" selama ramadhan merasa makan dan minum terkekang. Sehingga tak heran kalau pada masa Lebaran banyak yang "overdosis" dan banyak dokter yang kelimpahan pasien dengan keluhan sakit perut, diare, maupun sembelit. Menengok kembali ke bulan ramadhan. Ibadah puasa adalah suatu bentuk pelatihan, bukan ujian. Tak hanya melatih fisik , tetapi puasa juga melatih mental. Jika ramadhan diibaratkan sebagai sebuah pagelaran seni. Tentu sangat membutuhkan latihan yang sungguh-sungguh. Kemudian , darimana kita bisa menilai bentuk kesuksesan pagelaran seni tersebut? Tentu saja dari saat pementasannya, bukan dari latihannya. Berhasil tidaknya puasa dapat dilihat dari hasil "pementasan" kita setelah kita selesai berpuasa. Berbeda dengan ujian. Dalam ujian diperlukan persiapan mempelajari bahan-bahan yang akan diujikan. Terkadang kita mengeluh capek, karena harus mempelajari maksimal bahan ujian. Dan ketika ujian selesai, apa yang kita lakukan? Plong! Hati lega karena telah lepas dari ujian. Plus bergembira ria sebab tak perlu lagi belajar. Game over. Sehingga tak aneh , selama puasa masih dianggap sebagai ujian, selama itu pula perilaku kita tidak berubah. Kita hanya berusaha menjadi "baik" ketika bulan ramadhan. Selebihnya kembali ke posisi semula, dimana kita merasa bias berbuat "semau gue" karena tak ada kekangan. Karena itu saudaraku, lebaran bukanlah suatu rutinitas semata. Lebaran punya makna lebih luas dari sekedar perayaan atau pesta. Tergantung kemampuan kita untuk menemukan makna yang hakiki dibalik lebaran. Sebab selama kita tidak memiliki kemampuan untuk menemukan makna yang benar dari apa yang kita lakukan, selama itu pula pertumbuhan dan perkembangan kita sebagai manusia paripurna akan terus mengalami hambatan. Semoga kita bisa menggelar pementasan yang lebih indah di atas panggung pagelaran seni kali ini. Dan biarkan pestanya bubar…(berbagai sumber) Selamat Hari Raya Idul Fitri 1427 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin Aridaistia Studio 1 Radio Tarbiyah Surabaya, 29Ramadhan 1427 H

Posted at 09:43 am by sausanarida

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home